Kamis, 08 November 2012

Berlian untuk Pemetik Kecapi yang Bodoh




Konon, di sebuah kota kecil, tinggal seorang pemetik kecapi yang cerdas. Ia pandai memetik kecapi, sehingga membuat semua orang bergembira dengan petikannya. Ia pandai bernyanyi, suaranya lebih merdu dari kicauan burung merula. Ia terkenal sampai ke pelosok negri, hingga Raja pun tahu mengenai ia.
            Sudah lima tahun dia jadi pemusik bagi Raja. Raja pun menyayangi ia, seperti anaknya sendiri. Raja selalu memberi dia upah yang banyak. Ia begitu berkecukupan. Ia makan makanan yang orang-orang tidak bisa memakannya. Dia minum anggur yang orang-orang tidak bisa meminumnya. Namun tak jarang ia memberikan anggurnya pada mereka. Orang-orang menganggap ia adalah orang yang paling berbahagia. Tak ada seorang pun yang iri padanya. Semua ingin melihat dia bahagia. Bagaimana tidak, seorang pemetik kecapi muda itu sering membuat orang lain melupakan kesedihannya.
            Namun, berbeda dengan pandangan seorang pemetik kecapi itu. Baginya, jika ia belum memiliki berlian lambang keemasan Sang Raja, ia merasa belum berbahagia. Tak hanya ia, banyak pula orang-orang yang menginginkan berlian itu. Dan semua orang tau, dia ingin memiliki berlian itu. Tapi semua orang juga percaya, bahwa ia tidak akan mencuri berlian itu. Raja mungkin tak tahu, kalau ia sangat menginginkan berlian itu, tapi, semua orang yakin, suatu saat Raja akan memberikan berlian itu untuknya.
            Pemetik kecapi itu terus berusaha menjadi kesayangannya Raja. Supaya kelak ia dapat memiliki berlian itu. Namun, Raja tak kunjung sadar tentang hal apa sebenarnya yang diinginkan Pemetik kecapi kesayangannya itu. http://feldavmaria.blogspot.com/2012/11/berlian-untuk-pemetik-kecapi-yang-bodoh.html
            Tahun demi tahun berlalu, Raja tak bosannya mendengar petikan-petikan sempurna nan indah dari seorang Pemetik kecapi kesayangannya itu. Sayang beribu sayang, Pemetik Kecapi itu mulai jenuh memainkan kecapinya. Dia mulai kesal. Sudah bertahun dia menunggu untuk mendapatkan berlian lambang keemasan raja itu. Tapi Raja tak juga memberinya. Maka Si Pemetik Kecapipun pergi meninggalkan Raja. Ia pergi jauh-jauh dari istana. http://feldavmaria.blogspot.com/2012/11/berlian-untuk-pemetik-kecapi-yang-bodoh.html
Sekarang ia kaya raya, hidupnya berkelimpahan karna upah yang telah ia tabung selama menjadi pemetik kecapi bagi raja. Ia punya kedai anggur mewah dan semua orang menyukainya. Ia tak perlu lagi bekerja bagi Raja. Raja yang tak pernah mengerti apa maunya. Raja yang dia anggap pelit.
             Beberapa bulan kemudian, Raja sakit keras. Tak ada lagi yang menghiburnya. Ia merindukan Si Pemetik Kecapi. Ia ingin mengundang Si Pemetik Kecapi ke istananya kembali maka ia pun menyuruh semua prajuritnya untuk mencari Si Pemetik Kecapi. Namun sayang, nihil hasilnya.
            Suatu hari, Raja duduk di ruang kejayaannya. Ia memandang berlian lambang keemasannya, yang ia dapatkan saat usianya masih belia. Berlian itu diberikan oleh Ayahnya, sebagai lambang karena ia telah dapat membangkitkan negri yang sempat jatuh. Bersama usianya, berlian itu kini telah usang. Raja mendapat suatu ilham. Ilham itu kemudian membuat Raja mengadakan sayembara : “BARANG SIAPA YANG DAPAT MENEMUKAN SI PEMETIK KECAPI, DAN MEMBAWA KE HADAPAN RAJA, MAKA RAJA AKAN MEMBERIKAN BERLIAN LAMBANG KEEMASAN RAJA” http://feldavmaria.blogspot.com/2012/11/berlian-untuk-pemetik-kecapi-yang-bodoh.html
            Mendengar itu, salah seorang pemuda datang menghampiri Raja, dan berkata padanya, “Ampun Rajaku. Tak sepantasnya Tuan membuat sayembara itu. Supaya Tuan tahu, Pemetik Kecapi yang Tuan cari, sebenarnya ia ingin sekali memiliki berlian lambang keemasan Tuan. Alankah kecewa hatinya, jika Tuan memberinya bagi orang lain.”
Raja terkejut, “Benarkah? Lantas, apa yang harus aku perbuat?? Aku ingin mendapatkan dia disini. Untuk memetikkan lagu-lagu indah kembali. Hingga aku dapat tertidur tenang.”
Pemuda itu menjawab, “Hamba tahu dimana Pemetik Kecapi itu berada. Ia tinggal di kota yang tak jauh dari tempat kelahiran hamba. Hamba mendapatinya saat sedang ingin membeli anggur. Jika Tuan berkehendak, hamba bersedia membujuk dia untuk kesini.”
            Tujuh hari setelah itu, Raja sakit semakin parah. “Wahai Pemetik Kecapi, andai aku dapat mendengarkan petikanmu, sekali lagi, maka aku akan tenang,” benak Raja.
            Tiba-tiba, datanglah seorang pemuda bersama dengan seorang pemetik kecapi itu. Pemetik Kecapi itu, memberanikan diri kehadapan Raja dan bertanya dengan lancang, “Wahai Raja. Apa gerangan yang Tuan mau dari hamba?? Tidak bosankah Tuan mendengar petikan-petikan Hamba??”
Raja tersenyum, “Anakku, Aku senang kau kembali. Aku hanya ingin mendengarkan petikanmu, barang hanya sekali saja.”
Pemetik Kecapi itu menjawab, “Apalah upah hamba, Tuan? Hamba sudah memiliki semuanya. Hamba tak perlu memetik senar-senar bodoh itu.”
“Sebagai upah, kali ini aku akan memberimu berlian lambang keemasan ku,” jawab Raja dengan penuh keyakinan.  http://feldavmaria.blogspot.com/2012/11/berlian-untuk-pemetik-kecapi-yang-bodoh.html
Pemetik Kecapi itu tertawa, “Hahahaa... Wahai Rajaku. Apalah yang harus hamba perbuat dengan berlian usangmu itu?? Lama hamba menunggu selagi kilaunya masih segar, Tuan tak kunjung memberinya bagi hamba. Hamba punya kedai anggur mewah. Hamba bisa membeli berlian yang lebih indah dari itu! Bahkan hamba bisa beli satu gerobak berlian! Tanpa harus repot-repot memetik kecapi.”
Raja menyesal. Kalau saja ia memberikan berlian itu pada Si Pemetik Kecapi dari dulu, pasti sekarang Pemetik Kecapi tak akan pergi darinya.
“Anakku, tak ada yang lebih indah dari pada saat aku mendengar petikan-petikanmu itu. Mungkin sekarang berlian itu sudah tak menarik lagi bagimu, tapi biarkan aku mendengar, barang satu lagu saja. Aku janji, Anakku. Ini adalah yang terakhir. Kamu bisa lanjutkan usaha anggurmu itu, dan aku akan mengasah berlian yang ku janjikan dengan tanganku sendiri, agar kamu dapat melihat kilaunya kembali,” pinta Raja dengan sabar.
“Tuan tak perlu lakukan itu. Karna hamba akan pulang sekarang, dan jangan cari hamba lagi,” sahut Si Pemetik Kecapi keras kepala.
“Tunggu anakku! Kemarilah mendekat padaku sebentar,” Raja menunjukkan berlian yang kini telah usang itu. Ia mencabut kancing bajunya dan menggunakannya untuk mengasah berlian itu. “Lihatlah, Anakku, berlian ini akan kembali bersinar indah. Ingatlah kilaunya saat itu, saat kamu benar-benar menginginkannya. Kini ia menunggumu untuk kau miliki.”

http://feldavmaria.blogspot.com/2012/11/berlian-untuk-pemetik-kecapi-yang-bodoh.html
Si Pemetik Kecapi itu acuh tak acuh. Sekali lagi, ia pamit pulang.

http://feldavmaria.blogspot.com/2012/11/berlian-untuk-pemetik-kecapi-yang-bodoh.html

Satu langkah dua langkah, ia mendengar suara berlian jatuh bersama dengan Sang Raja.
“Raja?! Raja?!” Seluruh penghuni istana menjadi panik.
Si Pemetik Kecapi itu pun ikut panik, “PANGGIL TABIB!” perintahnya.
“Aku tak perlu tabib, Anakku,” lirih Raja.
“Lalu apa yang Tuan inginkan??”
“Kau tau apa yang aku butuhkan, Nak. Mainkan kecapimu. Barang satu lagu saja” pinta Raja.
Lalu, Si Pemetik Kecapi itu memainkan kecapinya.
“Anakku, kau tetap yang terbaik. Kau berhak menempati tahta-ku. Dan ketika kau mendapati tahta-ku. Buatlah semua orang bergembira”
Pemetik Kecapi itu terdiam. Ketakutan. Ia tak mengerti apa yang Raja Katakan, “Apa Tuan ingin satu lagu lagi? Aku akan bermain sebanyak yang Tuan inginkan”
“Tak perlu, Nak. Aku janji satu lagu ini adalah yang terakhir. Lagu yang kau petikkan ini akan menghantarkan aku ketempat yang tenang.”
Detik itu juga, terjadi apa yang Si Pemetik Kecapi itu takutkan, Raja tak bernafas lagi. Raut Wajah si Pemetik Kecapi yang arogan berubah jadi pucat pasi. “Tu... Tuan?” Si Pemetik Kecapi itu mencium tangan Yang Mulia Raja. Berharap Sang Raja memintanya memetikkan satu lagu lagi. Atau mungkin berharap Sang Raja memintanya kembali untuk menjadi Pemetik Kecapi kesayangannya kembali, sama seperti dulu. Tapi tidak. Sayang, Raja sudah mati.
“Tuan, Tuan belum selesai mengasah berliannya... Tuan belum boleh pergi! Tuan janji akan memberi hamba berlian yang telah Tuan asah kan?!” rintih Si Pemetik Kecapi. Namun sayang, tak ada jawaban. Pemetik Kecapi yang cerdas itu, kini menjadi Pemetik Kecapi yang bodoh. Ia tersadar bahwa semua kekayaannya adalah dari Sang Raja. Ia sadar pula bahwa Ia masih membutuhkan Raja. Ia juga baru sadar bahwa ia juga sangat menyayangi Raja yang menurutnya pelit. Ia menyesali semua yang diperbuatnya terhadap Raja. Kalau saja ia punya kesempatan lagi untuk membuat Raja tertawa kembali seperti dulu, sama seperti saat ia memetikkan kecapinya bagi Raja. Namun kesempatan itu tak ada lagi. Raja, yang sangat menyayanginya, yang telah ia acuhkan, telah pergi ke tempat yang tenang.


Si Pemetik Kecapi itu menangis. menangis dan terus mengasah berlian itu dengan tangan Raja, sambil terus berharap Raja akan kembali untuk mengasah berlian itu dengan tangannya sendiri.
Berlian itu kini telah berkilau lagi. Kilaunya sama seperti saat pertama kali Si Pemetik Kecapi menginginkannya. Matanya penuh binar seakan ingin menginginkannya kembali. Ya. Si Pemetik Kecapi ingin memiliki berlian itu kembali. Tapi ia tidak enak hati pada Sang Raja. Ia merasa malu untuk mengambilnya. Ia takut. Sedih. Menyesal.

Si Pemetik Kecapi itu kemudian pergi. Ia tak pernah kembali ke istana sejak saat itu. Bodohnya ia. Padahal, di alam baka, Raja ingin Si Pemetik Kecapi itu merawat berliannya, dan menduduki tahtanya.

Bodohnya Si Pemetik Kecapi, coba saja dari awal ia mau memetik kecapi bagi Raja, ia pasti tidak perlu merasa bersalah. Ia akan memiliki tahta dan berlian yang sangat ia inginkan.




Created By: Felicitas Devana

Tidak ada komentar:

Posting Komentar